Sabtu, 01 Februari 2014

Catatan perempuan in earth


I Love You…!





Tak ada kalimat yang lain. Hanya “I Love You…”

Alone





Foto ini punya banyak kekurangan. Juga bukan menampilkan tipe High Key Lighting yang banyak dipakai untuk memberikan efek kelebihan pencahayaan pada suatu obyek.
Tapi foto ini menjadi sangat bermakna karena pengambilannya yang dilakukan secara diam-diam (candid). Sebelumnya saya sudah mencoba mengambil gambar anak ini secara langsung tetapi tidak pernah ketemu momen ini karena selalu ditemani ibunya. Malah saya yang dilihatin dengan curiga. Mungkin tampang saya yang jelek yang membuat saya dicurigai. :-)
Ketika ada kesempatan, voila, jadilah foto ini. Tapi lihat hasilnya agak mengecewakan walaupun bisa dimaafkan.
hanya sebuah catatan…..



Saya tidak pernah memanggilnya wanita. Entah karena saya terlanjur mengidentikkan wanita dengan istilah wanita tuna susila (WTS) atau karena saya sok jadi seorang feminis, atau mungkin karena bagi saya kata wanita tidak menyingkap secara luas misteri kaum ini. Atau karena alasan-alasan lain yang tidak saya mengerti.
Saya menyebutnya perempuan. Karena bagi saya, kata ini bisa menjelaskan betapa kontradiktifnya jika membandingkan sebuah istilah dengan kenyataan. Merekalah sang empu, kaum yang dihormati. Istilah yang sejak ribuan tahun disakralkan dalam berbagai ritual kepercayaan dan dalam berbagai peninggalan kebudayaan. Hanya merekalah yang bisa disebut ibu bumi, ibu pertiwi, dewi kesuburan, dewi kecantikan, dan macam istilah lain.
Tapi istilah itu seakan lenyap dan hanya tinggal sebagai istilah. “Perang” yang terjadi selama ribuan tahun antara kedua gender (meminjam istilah Chafetz dan Blumberg, juga Erich Fromm) menempatkan mereka dalam strata yang marginal. Terlalu sosiologis dan psikologis memang. Tetapi kenyataannya memang begitu. Dan itu jugalah yang sedang terjadi di berbagai belahan dunia.
Membaca majalah Time edisi 9 Agustus 2010, saya memalingkan muka dan berdesah. Bukan karena cover depan itu tidak pantas untuk ditampilkan, tetapi karena saya tidak mempunyai keberanian untuk melihatnya. Melihat kaum yang saya hormati ditampilkan dalam bentuk seperti itu.
Membicarakan perempuan memang tidak ada habisnya, bahkan jika itu dibicarakan oleh di lembaga-lembaga ilmu sosial atau oleh laki-laki tukang menggosip. Selalu ada cerita tentang mereka. Pembicaraannya pun beragam, mulai dari sekedar subyek gosip di arisan-arisan sampai pembicaraan tentang kesetaraan dan pemberdayaan di lembaga pemerintahan.
Tetapi bagi saya, membicarakan mereka adalah membicarakan tentang sebuah kaum yang dihormati, seperti namanya : perempuan. Mereka dinamai perempuan bukan karena sebagai lawan dari lak-laki. Mereka dinamai perempuan bukan karena mereka tidak memiliki penis. Mereka dinamai perempuan bukan karena mereka mempunyai vagina dan rahim. Mereka dinamai perempuan karena, sesuai namanya, mereka layak dihormati. Bukan seperti yang ditampilkan dalam cover majalah Time dan cerita yang ada di baliknya.
Tapi mungkin istilah itu perlu dihilangkan. Apalagi ketika berhadapan dengan kekuasaan yang diselimuti oleh pembenaran, apa saja termasuk agama.
Ini hanya sebuah catatan belaka. Dan saya masih memalingkan muka ketika melihat cover majalah Time 9 Agustus 2010.
Luis Alberto Suarez bukanlah pemain yang “kotor”. Selama musim pertama karir sepakbolanya di Ajax Amsterdam, dia pernah mendapatkan kritikan tajam karena mendapatkan 9 kartu kuning dalam satu musim (2008/2009). Musim 2009/2010 dia “hanya” mendapatkan 5 kartu kuning semusim. Tetap saja jumlah yang cukup banyak untuk ukuran seorang striker. Yang paling diingat orang adalah rekor golnya di Ajax untuk musim 2009/2010 dengan 35 gol (49 gol untuk semua kompetisi).
Selama karirnya di timnas Uruguay dan di Ajax Amsterdam, Suarez tidak sekalipun pernah mendapat kartu merah, sampai dengan partai quarter-final PD 2010 Afsel lalu antara Ghana vs Uruguay. “Penyelamatan Gemilang” yang dilakukannya pada menit ke-120 masa extra time babak perempat final PD 2010 antara Ghana vs Uruguay membuat nama Luis Suarez melambung. Bukan karena torehan 3 golnya selama kompetisi tetapi karena “tindakan tidak sportif” itulah yang membuat Ghana secara tidak langsung pulang kampung dan Uruguay melenggang ke semifinal.
Hujatan dan makian pun mendarat padanya. Suarez dianggap melecehkan nilai-nilai sportivitas dalam sepakbola. Seandainya (ini pengandaian saja) dia tidak menggunakan tangannya untuk menghalau bola yang mengarah ke gawang, maka Ghana yang akan melaju ke semi final PD 2010. Bukan Uruguay.
Tapi itu adalah pengandaian. Saya melihatnya dari sudut yang lain.
Bagi saya, apa yang dilakukan oleh Suarez adalah bagian dari sepakbola. Anda boleh setuju boleh tidak. Sepakbola bukan hanya proses tetapi juga hasil. Orang yang hanya melihat proses dalam sepakbola mengabaikan kenyataan bahwa hasil adalah tujuan dari sepakbola, sebaliknya orang yang terlalu menekankan hasil mengabaikan bahwa sepakbola adalah sebuah tampilan yang harus dinikmati.
Kenyataannya, Yunani tetap dikenang sebagai juara Euro 2004 dengan permainan “ultra-defensif”-nya, dan Belanda tetap dikenang dengan permainan “super-atraktif”-nya di PD 1974 dan 1978. Naif sekali kalau mengabaikan itu.
Benar kata Oscar Tabarez, pelatih timnas Uruguay, bahwa Suarez telah mendapatkan hukumannya [red card] dari perbuatan tidak sportifnya pada pertandingan itu. Sama seperti Zidane telah mendapatkan hukumannya ketika menanduk dada Marco Materazi di PD 2006. Sama seperti Maradona mendapatkan hukumannya karena menendang perut Serginho di PD 1982. Dan sama dengan semua kartu merah dan tambahan larangan bermain bagi semua pemain yang bertindak tidak sportif di lapangan hijau.
Tetapi, lanjut Tabarez, jangan salahkan Suarez atas kegagalan Asamoah Gyan menendang pinalti. Dan terlebih lagi jangan salahkan Suarez karena Ghana tersingkir dalam drama adu pinalti. Suarez telah dikeluarkan, dan bukan dia yang menjadi penyebab mengapa pemain-pemain Ghana gagal mengeksekusi pinalti. Menganggap bahwa dia bersalah atas suatu kejadian di luar keterlibatannya adalah sama saja dengan mencari kambing hitam.
Sederhananya begini :
  1. Suarez melakukan tindakan tidak sportif,
  2. dia diberi hukuman kartu merah dan harus keluar lapangan,
  3. Ghana mendapat pinalti,
  4. Asamoah Gyan gagal mengeksekusi pinalti,
  5. Pertandingan dilanjutkan dengan adu pinalti,
  6. Ghana kalah dalam adu pinalti.
Pertanyaannya : Apakah Luis Alberto Suarez bersalah atas semua kejadian dari 1 sampai 6 ??? :lol:
==========================
Banyak yang mengatakan bahwa itu adalah ketidakadilan. Tapi kita bicara soal sepakbola dan bukan tentang keadilan di ruang pengadilan. Sepakbola punya aturan (FIFA Laws of the Game) dan aturan itu, sepengetahuan saya, ditegakkan dalam semua pertandingan pada Piala Dunia 2010 Afsel ini. Kita juga tidak bicara tentang keadilan Tuhan dalam sepakbola [atau karma dan lain sebagainya]. :-)
Apakah keadilan [dalam arti yang luas] ada dalam sepakbola? Saya tidak tahu. Sepakbola punya keadilannya sendiri. Keadilan itu getir bagi sebagian orang tetapi manis bagi yang lain. Keadilan itu seperti berada di persimpangan antara kecakapan bermain, aturan yang berlaku, dan keberuntungan yang tidak kita mengerti.
Bagi saya, sepakbola adalah permainan yang indah. Kita tentunya menikmati sebuah keindahan. Jadi, nikmati saja, kalau perlu dengan sebotol Heineken dan sepiring kacang goreng. :-)
Selamat menikmati Final PD 2010. Siapa jagoan anda?

Mati Gelar

  • sebuah tulisan lama yang sempat tercecer
  • mudah-mudahan bisa aktif ngeblog :lol:









*gaya ngobrol ON*



Sebenarnya apa sih gunanya gelar [akademik] ?
Pertanyaan itu terkadang timbul dalam benak saya ketika melihat begitu banyak orang menderetkan sejumlah gelar di depan/belakang namanya. Saya sendiri punya beberapa pengalaman “lucu” tentang hal ini.
Saya pernah membandingkan kartu nama saya dengan kartu nama rekan-rekan. Banyak persamaannya, tetapi perbedaan yang paling jelas adalah : saya tidak mencantumkan gelar. :-) Hanya nama Fer.. Tob… saja. Tanpa embel-embel.
Entah kenapa kartu nama tanpa gelar itu mengundang beberapa “komentar miring” tentang kemampuan saya. Bahkan ada beberapa pejabat birokrasi yang menanyakan langsung keahlian saya karena tidak melihat gelar di kartu nama saya. Bahkan saya hanya menuliskan nama tanpa gelar untuk mengisi formulir-formulir resmi dari instansi berwenang. Nama yang tertera pada akte kelahiran dan KTP.
Pengalaman itu memang tidak mengenakkan tetapi saya cuek saja.
Ada kisah nyata lain yang cukup lucu. Pada Pemilu Legislatif lalu ada seorang caleg DPR di kota Sorong yang memasang poster di jalan depan rumah saya. Posternya berukuran besar dan lumayan banyak tersebar di kota Sorong.
Nama caleg itu ditulis dengan menderetkan sejumlah gelar yang dimilikinya. Tapi ada yang lucu disitu. Di namanya tertulis :



Dr.(candidate) NAMA CALEG [gelar A][gelar B]




Saya sering tertawa jika sedang melintasi poster itu. Bayangkan, dia menuliskan gelar DOKTOR di depan namanya sementara dia belum lulus/belum sah mendapatkan gelar Doktor dan masih kandidat belaka atau masih menjalani program doktor.
Kalau begitu, SEMUA orang yang berkualifikasi mengikuti program doktor adalah KANDIDAT DOKTOR dan berhak untuk mencantumkan gelar DR. di depan nama mereka meskipun mereka belum lulus program doktor. Berarti saya juga kandidat doktor dong. :-)
Yah, mulai sekarang panggil saya DOKTOR (cand.) Fertob. Oke…






Mengapa Mati Gelar ?



Saya pikir semua orang ingin dikenal dan dihargai karena dia memiliki suatu keahlian dan kemampuan tertentu. Keahlian dan kemampuan itu didapat melalui pendidikan yang berjenjang. Mulai dari jenjang terendah sampai pendidikan tinggi. Gelar yang diberikan oleh perguruan tinggi sendiri dibagi 2 yaitu : Gelar Akademik dan Gelar Profesional (Lihat Keputusan Mendiknas No. 178/U/2001 tentang Gelar dan Lulusan Perguruan Tinggi)
Gelar yang diperoleh menjadi ukuran kemampuan seseorang dalam suatu bidang yang menjadi kemampuannya. Gelar hanya tanda, simbol, dan lambang yang bisa dilihat, sementara kemampuan dan keahlian sendiri tidak terbatas pada gelar itu saja. Bisa saja seseorang yang memiliki gelar justru malah tidak memiliki kemampuan mumpuni di bidang itu. Entah karena cara memperolehnya tidak benar atau alasan lain.
Bisa saja seorang SE Akuntansi tidak tahu apa itu Laporan Keuangan Konsolidasi, atau General Ledger atau bahkan tak tahu apa definisi akuntansi. :lol:
Bisa saja seorang sarjana psikologi (S.Psi) tidak tahu tentang Tahap Perkembangan Psikoseksual Freudian, atau apa itu IQ, bahkan tidak bisa membedakan psikologi dan psikiatri. :lol:
Bisa saja kan ????



catatan kecil :
dalam daftar caleg tetap yang dikeluarkan KPU Kota Sorong ada seorang caleg yang menuliskan namanya dengan banyak gelar. Yaitu : Drs. Nama Caleg, M.Si, MM, M.Th.

secara iseng saya menuliskan singkatannya; di rumah saja (drs) XXXX Magister Sia-sia, Magister Main-main, Magister anTah-berantah.
dengan sejuta maaf buat mereka yang mempunyai gelar itu. :lol:




Yang sering saya lihat adalah pencantuman gelar bukanlah menjadi ajang pamer kemampuan dan keahlian tetapi seringkali menjadi ajang pamer gengsi. Itulah yang kebanyakan menjadi dorongan bagi seseorang untuk mendapatkan gelar : menambah gengsi dan harga diri di mata orang lain. Ilmunya sendiri, yang menjadi dasar pencapaian gelar, menjadi prioritas kesekian.
Dan tidak heran kalau akhirnya banyak muncul para calo gelar. Orang-orang yang menawarkan gelar cukup hanya dengan membayar sekian rupiah. Ayah saya pernah ditawarin gelar Doktor dari universitas fiktif hanya dengan membayar sekian juta rupiah. Tetapi beliau menolaknya.
Di Sorong, banyak sekali saya temukan isu-isu yang beredar tentang keabsahan gelar akademik seorang pejabat publik. Itu sudah jadi rahasia umum. Ada seorang anak pejabat yang kabarnya tidak lulus kuliah (S1) tetapi ketika pulang tiba-tiba mencantumkan gelar S2 di belakang namanya. So funny. :-)
Dan masih banyak yang lainnya, termasuk catatan kecil diatas.






Apa Yang Harus Dilakukan?



Ini bukanlah sebuah langkah mujarab tetapi ketika melihat fenomena ini, yang saya sedihkan bukanlah pemakaian gelar itu sendiri. Gelar wajar dicantumkan meskipun saya sendiri hampir tidak pernah memakainya.
Yang justru menjadi perhatian adalah karena begitu pentingnya arti sebuah gelar bagi kebanyakan orang [gengsi, harga diri, dll] maka makna dibalik gelar itu sendiri menjadi hilang. Itulah yang namanya KUALITAS manusia yang memakai gelar. Demi sebuah gelar orang rela menggunakan jalan pintas termasuk membeli gelar.
Dari sisi personal saya hanya bisa memberikan beberapa cara supaya fenomena ini setidaknya bisa dihilangkan.



  • Yakinkan diri anda [dan orang lain] bahwa nama anda adalah unik, spesial, khas, dan sangat berharga, tanpa perlu ditambahi dengan berbagai macam embel-embel yang mengikutinya.
  • Biasakanlah untuk menuliskan HANYA NAMA ANDA di semua lembaran formulir, dokumen, surat-surat, dan lain-lain. Hanya nama saja tanpa perlu menambah atribut-atribut yang menunjukkan siapa anda.
  • Janganlah menilai kemampuan seseorang HANYA karena orang tersebut memakai banyak gelar dan atribut yang menyertai namanya.
  • Jangan merasa bahwa anda akan lebih dihargai jika menambah gelar berderet-deret di depan/belakang nama anda. Penghargaan terhadap manusia tidak bisa dilihat hanya dengan itu saja. Hargailah orang yang justru tidak bergelar tapi menunjukkan kualitas yang mumpuni daripada orang yang bergelar tetapi kualitasnya nol besar.
  • Gelar adalah ukuran kemampuan seseorang dalam suatu bidang tertentu dan bukan ukuran penilaian dalam skala yang lebih luas. Gelar adalah bukti bahwa seseorang berhasil melalui suatu kualifikasi mutu untuk disebut ahli dalam suatu bidang.
  • Hargailah proses daripada hanya sekedar hasil. Proses yang dilalui melalui sebuah perjuangan dan bukan melalui cara-cara instan.



Cara-cara diatas hanyalah sebuah advis personal. Tentunya ada cara-cara lain yang bisa kita lakukan, dan itu terserah pada anda.
Saya masih berpikir, sebenarnya apa gunanya gelar? :lol:
  • tentang natal
  • hanya sebuah “gugatan” :-)






Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: ”Penindasan!” tetapi tidak Kautolong?
Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi.
Itulah sebabnya hukum kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan, sebab orang fasik mengepung orang benar; itulah sebabnya keadilan muncul terbalik.
(Habakuk 1:2-4 Alkitab TB LAI, 1996)



Merayakan Natal tahun 2009 ini seperti merayakan Natal di tengah persoalan bangsa Indonesia yang tidak kunjung selesai. Berbagai persoalan menjadi ganjalan di tengah kemeriahan Natal. Kemeriahan yang seolah semu.
Dimulai dari ricuh Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden 2009 dan diakhiri dengan megakasus Bank Century. Apakah kita menjadi bangsa yang tak putus dirundung masalah?
Tema yang paling sering muncul dari sekian banyak kasus itu adalah masalah keadilan. Misalnya saja kasus Bibit-Chandra, Prita Mulyasari vs RS Omni, Mafia Hukum ala Anggodo, Bu Minah dan Kakao, dan masih banyak lagi. Rasa keadilan masyarakat serasa diperkosa dengan kasus-kasus itu.
PGI dan KWI mengeluarkan tema Natal 2009 yaitu “Tuhan itu baik bagi semua orang (Mazmur 145:9)“. Tema yang sesungguhnya mengatakan bahwa siapapun dia manusia, Tuhan selalu dan tetap selalu baik kepadanya. Suatu tema yang berangkat dari sifat Tuhan Yang Maha Baik. Satu sifat yang tak perlu dipertanyakan lagi.
Saya sendiri menganggap tema itu bersifat universal dan umum. Tetapi ada yang terlupakan dari tema itu : tema keadilan yang sering muncul dalam berbagai kasus di Indonesia.
Dengan banyaknya kasus di Indonesia yang menyuarakan keadilan, adalah suatu hal kurang pas kalau kita bicara kebaikan Tuhan. Yang paling pas, menurut saya, adalah kita bicara keadilan Tuhan. Karena Tuhan itu juga Maha Adil.
Gugatan atas kebaikan Tuhan seringkali berujung pada pertanyaan retoris : Apakah Tuhan juga baik pada para koruptor? Apakah Tuhan juga baik pada orang-orang yang bersikap tidak adil? Apakah Tuhan baik pada orang jahat?
Ya, pertanyaan yang retoris dan paradoks dengan sifat Tuhan.
Itulah juga yang membuat “gugatan” Nabi Habakuk dalam kutipan di atas terhadap Tuhan juga adalah gugatan kita semua. Gugatan yang bukan menandakan ketiadaan iman dan kepercayaan. Gugatan yang bukan mempertanyakan kemahakuasaan Tuhan, tetapi gugatan yang melihat begitu banyak ketidakadilan merajalela di bumi Indonesia. Gugatan para kaum tertindas yang berharap ada keadilan di bumi ini.
Akhirnya gugatan itu berujung pada keadilan Ilahi. Ketika keadilan tidak didapatkan di bumi, pada akhirnya orang berharap pada keadilan Ilahi; hanya Tuhan yang mendengar jeritan orang-orang yang ditindas ketidakadilan.
Dan akhirnya saya hanya mengucapkan Selamat Natal 2009 pada saudara-saudara yang merayakannya. Jangan lupakan kebaikan Tuhan, tetapi jangan juga lupakan keadilan Tuhan.
Sebab, Tuhan itu ADIL bagi semua orang

10 Film Yang Jadi Inspirasi

Nonton Film



Film adalah sesuatu yang bisa menjadi inspirasi bagi saya. Sama dengan naik gunung, pergi ke pantai, membaca buku, atau bahkan main bola.
Dan sepanjang hidup saya, ada beberapa film yang pernah saya tonton dan saya nominasikan sebagai film-film yang paling berpengaruh dalam hidup. Selain berpengaruh, film-film itu sekaligus sangat berkesan dan pada beberapa kasus menjadi inspirasi saya dalam menulis.
Dan inilah dia 10 film [luar negeri] yang menjadi inspirasi dalam hidup saya [disusun secara random] :







1. Life Is Beautiful (La Vita รจ Bella)
Film yang disutradarai oleh Roberto Benigni ini bercerita tentang kisah satu keluarga yang mengalami penderitaan selama kekuasaan NAZI pada Perang Dunia II. Guido Orefice (Roberto Benigni) beserta istrinya, Dora (Nicoletta Braschi) dan anaknya, Giosue (Giorgio Cantarini) dimasukkan ke kamp konsentrasi oleh NAZI dan mengalami berbagai kesulitan selama berada disana.
life is beautiful
Disitulah perjuangan itu dimulai. Bagi Guido, walaupun berada dalam kamp konsentrasi dan mengalami penderitaan fisik dan mental, hal yang selalu diingat dan dilakukannya adalah : mengganggap bahwa hidup itu indah. Dengan segala cara dia membuat agar anaknya bisa bahagia dan merasakan keindahan hidup itu sendiri.
Film ini mendapat Oscar di tahun 1998 untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik (Best Foreign Language).



This is the sacrifice my father made for me.
(Giosue Orefice)



2. The Godfather Trilogy
Trilogi Godfather adalah film yang sangat berkesan bagi saya. Mengisahkan keluarga (klan) Corleone dari sang Bapak (Don Vito Corleone) sampai ke anaknya Michael Corleone. Kisah keluarga mafia imigran Italia di New York yang membangun bisnisnya dari kecil sampai menjadi imperium bisnis yang sangat besar. Penuh dengan kisah perjuangan, kisah cinta, tipu muslihat, konspirasi, dan juga kecintaan kepada keluarga.
the godfather
Disutradarai oleh Francis Ford Copolla dan dibintangi oleh antara lain Marlon Brando (Don Vito Corleone), Al Pacino (Michael Corleone), Robert Duvall (Tom Hagen), Diane keaton (Kay Adams), James Caan (Santino Corleone), John Cazale (Fredo Corleone), dan Richard Bright (Al Neri).



My father made him an offer he couldn’t refuse.
(Michael Corleone)



3. The Insider
Film ini mengajarkan tentang arti sebuah profesionalitas dan pengungkapan kebenaran bagi diri saya. The Insider bercerita tentang Dr. Jeffrey Wigand (Russel Crowe) yang dipecat dari perusahaan rokok Brown & Williamson karena tidak menyetujui kebijakan perusahaan. Wigand memiliki informasi berharga tentang kebijakan perusahaan rokok itu yang dinilainya merugikan publik, namun dia terikat pada Confidential Agreement.
the insider
Lowell Bergman (Al Pacino), seorang produser acara 60 Minutes di CBS, menyarankan Dr. Wigand untuk mengungkapkan informasi itu dalam acara 60 Minutes di CBS. Disinilah “pertempuran” dimulai. Setalah informasi itu berhasil ditayangkan, Bergman memilih mundur dari CBS dengan alasan tidak ingin kasus serupa terjadi. Pelajaran yang sangat berharga bahwa kerahasiaan identitas informan adalah hal yang sangat dijunjung tinggi di dunia pers.
Film yang disutradarai oleh Michael Mann ini menjadi nominasi Oscar pada tahun 1999, namun dikalahkan oleh film American Beauty.



And I don’t like paranoid accusations ! I’m a journalist. Think. Use your head. How do I operate as a journalist by screwing the people who could provide me with information before they provided me with it ?
(Lowell Bergman)



4. The Green Mile
Anda percaya pada keajaiban dan kebaikan hati ? Saya sarankan anda menonton film ini.
Film ini berkisah tentang kehidupan di penjara Death Row (istilah untuk penjara bagi terpidana mati). Paul Edgecomb (Tom Hanks), Brutus Howel (David Morse), Dean Stanton (Barry Pepper), Harry Terwilligger (Jeffey DeMunn), dan Percy Wetmore (Doug Hutchison) adalah sipir yang bertugas di penjara itu.
the green mile
Suatu waktu mereka kedatangan seorang penghuni yang bertubuh raksasa, berwajah sangar, tetapi baik hati dan mempunyai kemampuan supranatural, John Cofey (Michael C. Duncan) yang dihukum mati karena dituduh membunuh 2 anak kecil. Kejahatan yang tidak dilakukannya. Drama dimulai ketika Cofey menjadi penghuni Death Row sampai saat dia dihukum mati di kursi listrik.
Film yang diangkat dari novel Stephen King dengan judul yang sama ini disutradarai oleh Frank Darabont dan menjadi nominasi film terbaik Oscar tahun 1999.



When I die and I stand before God awaiting judgment and he asks me why I let one of HIS miracles die, what am I gonna say, that it was my job?
(Paul Edgecomb)



5. Apocalypse Now
Inilah film yang menurut saya menggambarkan dengan sangat jelas dan gamblang segala kekejaman, ketakutan, mimpi buruk, konflik psikologis, dan kegilaan akibat perang.
Berlatar belakang perang Vietnam, film ini berkisah tentang kekejaman dan kegilaan yang terjadi selama perang itu. Inti dari film ini adalah ketika Capt. Benjamin L. Willard (Martin Sheen) ditugaskan untuk menggantikan dan “menghabisi” Komandan Pasukan Khusus USA, Col. Walter E. Kurtz (Marlon Brando) yang dituduh telah “gila”.
apocalypse now
Inilah film perang terbaik menurut saya yang sangat jelas menggambarkan “kehidupan di dunia perang”. Film yang disutradarai oleh Francis Ford Coppola ini bahkan melebihi konflik dalam perang yang ada di film perang lainnya seperti Platoon, Saving Private Ryan, atau The Thin Red Line.



I was going to the worst place in the world, and I didn’t even know it yet. Weeks away and hundreds of miles up a river that snaked through the war like a main circuit cable plugged straight into Kurtz
(Capt. Benjamin Willard)



6. The Silence of The Lambs
Film inilah yang salah satunya mengilhami saya untuk memilih psikologi (dan ternyata bayangannya sungguh jauh berbeda). :) Sebuah film yang bertema suspense, psychological thriller, dan serial killer.
silence of the lambs
Film ini bercerita tentang seorang trainee FBI, Clarice Starling (Jodie Foster) yang ditugaskan mewawancarai Dr. Hannibal Lecter, seorang psikiater dan juga pembunuh berantai kanibal yang sedang dipenjara. Tugas itu demi mengungkap kasus pembunuhan berantai lain yang dilakukan oleh Buffalo Bill. Lecter dipandang mengetahui keberadaan Buffalo Bill ini.
Interaksi dan percakapan antara Starling dan Lecter yang menjadi salah satu kekuatan film ini. Dari interaksi itulah timbul semacam “keterikatan batin” antara mereka berdua. Starling mengagumi Lecter di bawah sadarnya, begitu juga sebaliknya.
Film yang disutradarai oleh Jonathan Demme ini mendapat Oscar untuk film terbaik di tahun 1991. Jodie Foster dan Anthony Hopkins juga mendapat Oscar untuk Aktor/Aktris terbaik.



You still wake up sometimes, don’t you, wake up in the dark, and hear the screaming of the lambs ?
(Hannibal Lecter)



7. The Shawshank Redemption
Inilah film tentang kisah luar biasa di dalam penjara. Banyak sekali kalimat-kalimat indah yang membuat kita tergugah akan kehidupan.
Film ini berlatar tahun 1940-an di penjara [fiksi] Shawshank State Prison. Bercerita tentang kehidupan Andi Dufresne (Tim Robbins) yang dipenjara karena dituduh membunuh istri dan kekasihnya. Di penjara dia bertemu dan bersahabat dengan Elys Boyd Redding (Morgan Freeman), seorang narapidana disana. 20 tahun kehidupan di penjara dan perjuangannya untuk mencapai keadilan.
shawsank redemption
Film ini sendiri banyak dipuji oleh kritikus film sebagai film terbaik di masanya, meskipun dalam soal ketenaran (box office) film ini termasuk biasa-biasa saja. Mendapat nominasi Oscar di tahun 1994 tetapi takluk oleh film Forrest Gump.



Hope ? Let me tell you something, my friend. Hope is a dangerous thing. Hope can drive a man insane. It’s got no use on the inside. You’d better get used to that idea.
(Elys Boyd “Red”)
Apakah “hope” adalah sesuatu yang sia-sia di dalam penjara ? ;)



8. Philadelphia
Film luar biasa tentang prasangka dan diskriminasi pasien HIV/AIDS dan perjuangan menggapai keadilan bagi penderita HIV/AIDS. Sebuah film yang menyadarkan kita akan bahaya HIV/AIDS dan segala macam stigma yang melekat pada diri penderitanya.
philadelphia
Film ini berkisah tentang Andrew Beckett (Tom Hanks) yang dipecat dari firma hukum karena pandangan diskriminasi oleh atasannya. Andrew adalah seorang gay dan juga penderita HIV/AIDS. Dia berjuang untuk mendapatkan keadilan bagi penderita HIV/AIDS yang pada saat itu mendapatkan stigma negatif dari masyarakat. Dibantu oleh pengacara Joe Miller (Denzel Washington), keduanya menggapai keadilan bagi hak-hak penderita HIV/AIDS.
Film yang disutradarai oleh Jonathan Demme ini mendapat Oscar di tahun 1993.



Judge Garrett : In this courtroom, Mr.Miller, justice is blind to matters of race, creed, color, religion, and sexual orientation.
Joe Miller : With all due respect, your honor, we don’t live in this courtroom, do we?



9. Hotel Rwanda
Inilah film yang menggambarkan bentrok antar etnis di Rwanda (antara etnis Hutu dan Tutsi). Sebenarnya saya lebih menominasikan film Schindler’s List dan Crash tapi akhirnya lebih memilih Hotel Rwanda sebagai gambaran yang lebih nyata. Juga karena film ini tidak terlalu terkenal.
hotel rwanda
Ceritanya adalah kisah perjuangan Paul Rusesabagina (Don Cheadle), manajer hotel des Mille Collines di Kigali, yang menyelamatkan 1000-an nyawa dalam konflik genocide di Rwanda. Dia menggunakan pengaruhnya sebagai manajer hotel terbesar di Rwanda, etnis Hutu-nya, dan pertemanannya dengan beberapa tokoh etnis Hutu dalam menolong orang-orang [termasuk istrinya yang berasal dari suku Tutsi] Tutsi yang menjadi korban genocide.
Film yang disutradarai oleh Terry George ini tidak mendapatkan Oscar.



Politics is power, Paul. Hutu power.
(George Rutaganda)



10. A Beautiful Mind
Sebuah film yang bercerita tentang perjuangan luar biasa seorang penerima Nobel Ekonomi, John Forbes Nash (Russel Crowe) yang menderita gangguan Schizoprenia paranoid. Dukungan keluarga [terutama istrinya], sahabat-sahabatnya, sejawatnya di kampus, membuat John Nash bisa “berdamai” dengan halusinasi dan delusi yang menjadi simptom utama schizoprenia.
beautiful mind
Film ini luar biasa dari segi penceritaannya. Juga menampilkan kejeniusan Nash yang diatas rata-rata, halusinasi dan delusi yang terus menghantuinya, pengobatan schizoprenia yang saat itu masih menggunakan insulin shock-therapy, dukungan istri dan rekan-rekannya dalam karirnya di Princeton University, dan masih banyak lagi. Temanya memang sangat psikologis.
Film yang disutradarai oleh Ron Howard dan dibintangi antara lain oleh Jennifer Connely (Alicia Nash), Paul Bettany (Charles Herman), Ed Harris (William Parcher), dan Adam Goldberg (Sol) ini mendapat Oscar di tahun 2001.



Perhaps it is good to have a beautiful mind, but an even greater gift is to discover a beautiful heart.
(John F. Nash)






*****************



Sebenarnya masih banyak film-film yang menjadi inspirasi bagi saya. Saya ambil contoh Forrest Gump dan Trilogy The Lord of the Ring, tetapi kedua film itu diangkat dari novel yang sudah saya baca sebelumnya. Sehingga bagi saya, novel itulah yang menjadi inspirasi sementara film hanya memvisualisasi saja.
Bagaimana dengan anda, apakah ada film yang berkesan bagi anda ?