Kamis, 30 Januari 2014

kata kata penuh makna IR.SOEKARNO

Ir. Soekarno (1901-1970) adalah presiden pertama Indonesia yang menjabat sebagai presiden RI pada tahun 1945 – 1966. Hingga saat ini, kebanyakan masyarakat Indonesia masih menganggap Ir. Soekarno atau biasa dipanggil Bung Karno sebagai pemimpin terbaik yang pernah dimiliki oleh Bangsa Indonesia. Soekarno juga merupakan orang pertama yang memproklamasikan kemerdekaan, mencetuskan Pancasila dan UUD 45.

Selama masa kepemimpinannya, Bung Karno dikenal sebagai orang yang memiliki pengaruh dan wibawa yang besar, baik di dalam maupun luar negeri. Ir. Soekarno juga dikenal sebagai orator ulung yang mampu mempengaruhi dan mengobarkan semangat rakyat melalui pidatonya yang berapi – api. Hingga saat ini telah banyak pidato , baik teks, dokumentasi maupun rekaman video dari Bung Karno yang sangat terkenal hingga saat ini, seperti pidato tentang Ganyang Malaysia, To Build The World A New (pidato Ir. Soekarno di depan rapat PBB tahun 1963), Proklamasi Kemerdekaan dan banyak lagi.

Presiden Soekarno meninggal pada tahun 1970 karena penyakit ginjal dan dimakamkan di Blitar tepat disebelah makam ibunya. Pemerintahan RI menetapkan masa berkabung selama 7 hari untuk menghormati jasa besar presiden Soekarno selama hidupnya bagi bangsa Indonesia.

BERIKUT ADALAH SEBAGIAN KECIL DARI KUMPULAN KATA MUTIARA DAN KATA BIJAK BUNG KARNO SELAMA HIDUPNYA, YANG DIKUMPULKAN DARI PIDATO,BUKU DAN BIOGRAFI BUNG KARNO =>

“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”

“Merdeka hanyalah sebuah jembatan. Walaupun jembatan emas, di seberang jembatan itu jalan pecah dua: satu ke dunia sama rata sama rasa, satu ke dunia sama ratap sama tangis!”

“Kita adalah bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tak akan mengemis, kita tak akan minta – minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu ! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka dari pada makan bestik tetapi budak. (pada suatu Pidato HUT Proklamasi tahun 1963)

“Barangsiapa ingin mutiara, harus berani terjun di lautan yang dalam”

“Laki-laki dan perempuan adalah seperti dua sayap dari seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; Jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali”

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya”

“Saya katakan bahwa cita-cita kita dengan keadilan sosial ialah satu masyarakat yang adil dan makmur dengan menggunakan alat-alat industri, alat-alat tehnologi yang sangat modern. Asal tidak dikuasai oleh sistem kapitalisme”

“Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun”

“Tuhan tidak merubah nasib suatu bangsa, sebelum bangsa itu merubah nasibnya”

“Tidak seorang pun yang menghitung-hitung; berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya”

“Tetaplah bersemangat, Elang Rajawali!”

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”

“Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa”

“Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segi tiga warna. Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan kita selesai ! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat”

“Nasionalisme kita adalah nasionalisme yang membuat kita menjadi perkakasnya Tuhan, dan membuat kita menjadi hidup di dalamrokh”

“Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaran”

“Gantungkan cita-cita mu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang”

“Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali “

“Firman Tuhan inilah gitaku, Firman Tuhan inilah harus menjadi Gitamu : “Innallahu la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim”. ” Tuhan tidak merobah nasibnya sesuatu bangsa sebelum bangsa itu merobah nasibnya” (Pidato HUT Proklamasi, 1964 Bung Karno)

“Nasionalisme eropa adalah satu nasionalisme yang bersifat serang menyerang. Satu nasionalisme yang mengejar keperluan Beograd. Satu nasionalisme perdagangan yang untung atau rugi. Nasionalisme semacam itu pastilah salah, pastilah binasa”

“Sosialisme berarti adanya pabrik yang kolektif, adanya industrialisme yang kolektif, adanya produksi yang kolektif, adanya distribusi yang kolektif, adanya pendidikan yang kolektif”

“Orang tidak bisa mengabdi kepada Tuhan dengan tidak mengabdi kepada sesama manusia. Tuhan bersemayam di gubuknya si miskin”

“Apakah kelemahan kita? Kelemahan kita ialah kita kurang percaya diri kita sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong”

“Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca bengala dari pada masa yang akan datang”

“Dari sudut positif, kita tidak bisa membangunkan kultur kepribadian kita dengan sebaik-baiknya kalau tidak ada rasa kebangsaan yang sehat”

“Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka”

“Apakah kita mau Indonesia merdeka yang kaum kapitalnya merajalela, ataukah yang semua rakyatnya sejahtera, yang semua cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi sandang dan pangan?”

“Seorang Marhaen adalah orang yang mempunyai alat yang sedikit. Bangsa kita yang puluhan juta jiwa yang sudah dimelaratkan, bekerja bukan untuk orang lain dan tidak ada orang bekerja untuk dia. Marhaenisme adalah Sosialisme Indonesia dalam praktek”